Dahulu Jepang menjadi korban dari pengeboman nuklir oleh Amerika Serikat di wilayah Nagasaki dan Hiroshima yang mengakibatkan keterpurukan bagi Negara tersebut. Dimana dulunya tanah di Jepang merupakan tanah yang subur kini menjadi tanah yang tak dapat ditanami apapun. Namun keterpurukan tersebut tidak berlangsung lama, Jepang kembali bangkit dan hingga kini menjadi negara yang memiliki kecanggihan teknologi nomor satu di dunia.

Dalam memenuhi kebutuhan pangan pun banyak dikerahkan inisiatif yang menggabungkan teknologi dengan dunia pertanian. Indonesia yang dulunya menjadi pengekspor beras terbesar kini digeser oleh Jepang yang hanya memanfaatkan 25% dari luas wilayahnya serta kondisi tanah yang tidak sebagus di Indonesia. Sinergi antara pemerintah, swasta, dan juga universitas (peneliti) memberikan andil yang besar terhadap kesuksesan pertanian di Jepang. Berikut adalah teknologi Jepang yang diterapkan mulai dari pembibitan sampai pemanenan yang berkualitas baik dan berkuantits banyak.

Pembibitan Padi

Rekayasa genetika menjadi faktor dalam keberhasilan kualitas padi di Jepang dan teknologi ini sudah merambah ke berbagai negara.

Penanaman Padi

Indonesia memiliki Jarwo Transplanter untuk menanam padi, namun belum secanggih milik jepang. Sedangkan di Jepang sendiri memiliki mesin yang dapat menanam padi dengan rapi, mudah, dan cepat. Sehingga untuk dapat menanam padi terlebih dahulu bisa mengoperasikan mesin tersebut.

Pemeliharaan Padi

Di Indonesia, pemeliharaan padi masih dengan cara tradisional dan masih menggunakan tenaga manusia sehingga waktu dibutuhkan sangat lama dan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak sedikit pula. Mulai dari pemberian pupuk, pengusiran hama, sampai pada membersihkan rumput semua dilakukan oleh tenaga manusia. Namun di Jepang, kegiatan seperti ini dapat dilakukan hanya dengan satu orang saja menggunakan teknologi yang canggih tapi sederhana.

Pemanenan Padi

Di Indonesia memiliki teknologi indo combine harvester, sedangkan di India memiliki teknologi indo farm combine harvester, dimana alat tersebut membutuhkan sedikitnya 3 orang untuk mengoperasikannya. Teknologi pertanian di Jepang memiliki alat yang bisa dioperasikan oleh satu orang saja dengan cara pakai yang lebih sederhana namun hasil yang lebih banyak.